Kemuliaan Seorang Mukmin
*Kemuliaan Seorang Mukmin*
قال بشر بن الحارث رحمه الله:
عِزُّ الْمُؤْمِنِ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ، وَشَرَفُهُ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ.
Artinya:
Bishr bin Al-Harits رحمه الله berkata:
“Kemuliaan seorang mukmin terletak pada sikapnya yang tidak bergantung kepada manusia. Dan kehormatannya terletak pada qiyamul lail.”
PENJELASAN
Bishr bin Al-Harits Al-Hafi رحمه الله (wafat 227 H) adalah salah seorang imam besar dalam mazhab ahli zuhud. Beliau hidup sangat sederhana, tetapi namanya harum di kalangan para ulama karena ketakwaan, wara’, dan kedalaman ibadahnya. Nasihat-nasihat beliau lahir bukan dari teori, tetapi dari hati yang telah lama merasakan manisnya dekat dengan Allah.
Beliau berkata,
“Kemuliaan seorang mukmin terletak pada sikapnya yang tidak bergantung kepada manusia. Dan kehormatannya terletak pada qiyamul lail.”
Betapa berbeda ukuran kemuliaan menurut langit dan menurut manusia.
Manusia sering mengukur kemuliaan dari apa yang terlihat.
Semakin tinggi jabatan, semakin mulia.
Semakin banyak harta, semakin dihormati.
Semakin terkenal, semakin dianggap berhasil.
Padahal semua itu bisa hilang dalam sekejap.
Jabatan dapat dicabut.
Harta dapat habis.
Popularitas dapat sirna.
Tetapi ada kemuliaan yang tidak bisa dirampas siapa pun.
Yaitu ketika hati tidak lagi bergantung kepada manusia.
Orang yang hidupnya selalu menunggu penghargaan manusia akan mudah kecewa.
Ia senang ketika dipuji.
Ia gelisah ketika diabaikan.
Ia terluka ketika dicela.
Karena kebahagiaannya berada di tangan manusia.
Sedangkan seorang mukmin yang mengenal Allah tidak menggantungkan harga dirinya kepada makhluk.
Ia tetap berbuat baik meski tidak dipuji.
Ia tetap ikhlas meski tidak dikenal.
Ia tetap jujur meski tidak ada yang melihat.
Karena yang ia cari bukan penilaian manusia, tetapi ridha Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Lalu Bishr Al-Hafi menyebut sesuatu yang sangat menarik.
Beliau tidak mengatakan bahwa kehormatan seorang mukmin ada pada banyaknya ilmu, panjangnya ceramah, atau besarnya amal yang dilihat manusia.
Beliau berkata,
“Kehormatannya ada pada qiyamul lail.”
Mengapa?
Karena malam adalah saat semua topeng terlepas.
Di siang hari kita bisa terlihat saleh di hadapan manusia.
Tetapi ketika malam tiba, tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar bangun menghadap Allah.
Saat itulah terlihat siapa yang benar-benar mencintai Rabbnya.
Qiyamul lail adalah ibadah yang paling sunyi.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pujian.
Tidak ada kamera.
Tidak ada yang tahu berapa lama kita berdiri.
Tidak ada yang melihat air mata yang jatuh.
Hanya Allah.
Mungkin itulah sebabnya para salaf sangat mencintai malam.
Karena di sanalah mereka meletakkan seluruh beban hidupnya.
Di sanalah mereka menangis.
Di sanalah mereka mengadu.
Di sanalah mereka memperoleh kekuatan untuk menghadapi beratnya kehidupan di siang hari.
Maka jangan bersedih jika namamu tidak dikenal manusia.
Yang perlu kita khawatirkan adalah jika nama kita tidak dikenal di langit.
Dan jangan terlalu sibuk memperindah amal yang dilihat manusia.
Sibukkanlah diri dengan amal yang hanya diketahui oleh Allah.
Mungkin hanya dua rakaat sebelum Subuh.
Mungkin hanya beberapa menit bermunajat.
Namun bisa jadi, itulah amal yang paling mulia di sisi-Nya.
Ya Allah…
Jadikan hati kami hanya bergantung kepada-Mu.
Jangan Engkau jadikan kami hamba yang hidup dari pujian manusia.
Karuniakan kepada kami kelezatan bermunajat di sepertiga malam.
Hiasi hidup kami dengan keikhlasan, muliakan kami dengan tawakal, dan bangkitkan kami pada hari kiamat bersama hamba-hamba yang Engkau cintai.
Aamiin ya Rabbal ’alamin......
Komentar
Posting Komentar