Bahagia
*B A H A G I A* Dalam Al-Qur'an, puncak kebahagiaan sejati tidak diukur dari pencapaian materi atau kemewahan duniawi, melainkan dari sebuah kondisi kejiwaan yang merdeka. Kondisi ini sering diulang-ulang oleh Allah SWT dalam kalimat: "Laa khaufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun" (Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati). Kalimat ini merangkum sebuah formula psikologis dan spiritual yang sangat mendalam terkait dimensi waktu kehidupan manusia: masa lalu, masa depan, dan masa kini. Berikut adalah penjabaran makna dari konsep kebahagiaan tersebut: *1. Tidak Bersedih Hati: Berdamai dengan Masa Lalu* Dalam bahasa Al-Qur'an, rasa sedih (al-huzn) hampir selalu berkaitan dengan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu. Ini meliputi penyesalan atas keputusan yang keliru, kesedihan karena kehilangan orang terkasih, hilangnya harta benda atau masa-masa sulit yang pernah dilalui. *Kebahagiaan terwujud ketika seseorang mampu:* _Menerima Ke...